Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

CIRI-CIRI KARAKTER ANAK BERMASALAH

Kenakalan Anak-Ana

Review :

Mungkinkah mengetahui dan memastikan apakah seorang anak itu bermasalah, dalam waktu 5-10 menit pertama saat kita bertemu dengannya?” Jawabannya adalah “mungkin” dan “pasti”. Pertanyaan yang sering saya ajukan kepada peserta seminar ataupun para orangtua yang sedang bersemangat belajar dan mencecar saya dengan berbagai pertanyaan seputar anaknya.

Rahasia tersebut akan saya bahas sekarang, rahasia yang sering saya gunakan untuk menganalisa seorang anak. Apakah dia bermasalah, bahkan setelah mempelajarinya dengan seksama kita mampu meramal masa depan seorang anak. Wow, tenang ini bukan obral janji, tapi ini pasti. Dari hasil menangani berbagai kasus keluarga dan individu maka terbentuklah suatu pola yang akurat ditiap individu. Kebanyakan klien saya jika memiliki masalah, kebanyakan masalah tersebut  dan sebagian besar masalah itu berasal dari 2 hal. Ini juga rahasia (Rahasia dari ruang terapi saya), tapi akan saya bongkar habis.

Baiklah 2 hal tersebut berasal dari :

    Keluarga (keluarga yang membentuk masalah tersebut secara tidak sengaja).
    Masalah tersebut berasal dari usia 7 tahun kebawah.

Keluarga, adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak diIndonesia menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Manusia berbeda dengan binatang (maaf..) seekor anak kucing yang baru lahir, bisa hidup jika dipisahkan dari induknya, dan banyak binatang yang lain yang memiliki kemampuan serupa. Manusia tidak bisa, sampai usia 18 tahun masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang manusia tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”. Akan sangat banyak hal yang akan dikupas dari tiap tahun kehidupan manusia dan kebutuhannya serta cara memenuhi kebutuhan tersebut, terutama aspek emosi. Saya tidak akan meneruskannya, kita akan bahas dikesempatan lainnya, kini kita kembali ke cara mengetahui ciri anak bermasalah.

Usia 7 tahun kebawah? Ada apa pada usia ini? Pada masa ini kebanyakan (85%) letak masalah atau asal muasal masalah / hambatan seorang manusia tercipta. Istilah kerennya Mental Block. Karakter yang menghabat pencapaian cita-cita pribadi kita. Dan biasanya akan terasa pada usia 22 tahun ke atas. Woo… segitunya? Ya Mental Block seperti program yang seakan-akan dipersiapkan (karena ketidak sengajaan dan ketidak tahuan orangtua kita) untuk menghambat berbagai macam aspek dalam kehidupan kita. Aspek itu bisa berupa Karier (takut kaya, takut jabatan tinggi) kesehatan (tubuh gemuk, alergi) Relationship (tidak gampang cocok dengan pasangan/teman, paranoid) dan lain hal, serta masih banyak lagi.

Ada apa dengan 7 tahun kebawah dan disekitar 7 tahun pertama kehidupan manusia? Baiklah saya jelaskan, pada masa ini kita membutuhkan, kebutuhan dasar Emosi yang harus terpenuhi ingat HARUS terpenuhi. Jika pada masa ini lewat dan tidak terpenuhi  maka, akan terjadi Mental Block pada diri anak tersebut. Inilah asal muasal dimana Mental Block terbentuk. Karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Emosi yang dibutuhkan seorang manusia. Kebutuhan apa yang dibutuhkan pada anak seusia itu? Sehingga fatal akibatnya (pada masa dewasa anak tersebut) jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi



Ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih, cara ini adalah kunci dalam pendidikan karakter, agar karakter anak kita bisa tumbuh dan berkembang maksimal. Disamping itu ketiga hal inilah asal muasal Mental Block yang sering kali terjadi atau terasa sangat menganggu pada saat anak tersebut dewasa. Yaitu :

1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima

3 kebutuhan dasar emosi tersebut harus terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki karakter yang kuat menghadapi hidup. Ini akan sangat panjang sekali jika dijelaskan, nah mengingat kita membahas ciri – ciri karakter anak bermasalah maka kita akan kembali ke topic tersebut.

Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang (baca: semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan perbaikan.

Inilah ciri-ciri karakter tersebut :

1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling Nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.

2. Kurang terbuka pada pada Orang Tua
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.

3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.

4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering Menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.

5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama da kasih contoh berulang-ulang”.

6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah, kemanakah orangtua?

Sumber : Clik Here

PERANAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MELENGKAPI KEPRIBADIAN

Karakter => Kepribadian => Sikap => Tingkah Laku
Review :

Pada awalnya manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian ada 4 macam. Ada banyak teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna,  tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :

1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.

2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.

3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.

4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.

Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.

Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda.  Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.

Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.

Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.

Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.

Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.
Sumber : click here

Rabu, 02 Mei 2012

KARAKTERISTIK KOGNITIF MURID SEKOLAH DASAR

Murid SD  dapat dipahami dengan cara  mengenali  karakteristiknya  yang  mem- bedakan dirinya dari kelompok usia lainnya. Karakteristik murid SD antara lain digam- barkan dari sudut karakteristik fisikal, sosial, emosional, dan kognitif. Dalam uraian ini akan dibahas karakteristik kognitif saja.
Pengelompokan  yang  cukup  akomodatif  secara  psikologis  membagi  dua  usia murid SD  yaitu kelompok 6-10 tahun dan kelompok 10-13 tahun (Gunawan, 1992). Perkembangan  yang  menonjol pada periode pertama  ditandai  dengan kegiatan  belajar membaca dan tercapainya penguasaan beberapa pengetahuan dan kecakapan. Oleh kare- na itu, banyak ahli pendidikan menyarankan agar murid diberi kesempatan untuk belajar sambil berbuat  (learning by doing).  Periode kedua usia  sekolah dasar  ditandai oleh keinginan untuk belajar lebih dan tumbuhnya bermacam-macam minat. Misalnya: mulai timbul  minat  terhadap hewan  piaraan,  hasil-hasil teknologi  atau mulai terbentuknya berbagai macam hobi. Murid juga mulai mengembangkan pengertian-pengertian tentang sebab  akibat,  membentuk konsep dan  mulai  memecahkan persoalan-persoalan sederhana.

Selain apa yang diuraikan di atas, dapat dicatat juga pendapat Biehler dan Snow- man (1982) tentang karakteristik kognitif murid sekolah dasar, yakni:

Siswa SD biasanya ingin  menceritakan  apakah mereka mengetahui jawaban yang benar atau tidak. Konsep benar dan salah mulai berkembang. Biasanya, pada mula- nya berkenaan  dengan  kegiatan tertentu  dan  secara bertahap  menjadi tergenerali- sasi. Ada perbedaan antara  laki-laki  dan peremluan akademik.  Nyata  jelas perbe- daan dalam  gaya kognitif.

(Elementary  school pupils are  usually  eager to recite whether  they know  the right answer or not.  Concepts of right  and  wrong begin devekop. Usually these are concerned with specific act at first and only gradually became generally become generalzed. These are sex differences in specific abilities and  in  overall  academic  performance.  Differences  in  cognitive  style  become apparent).

 Kedua pendapat di atas pada dasarnya mengemukakan secara kognitif anak-anak usia sekolah dasar siap matang untuk  ber-kembang sesuai dengan perkembangannya masing-masing.

PERBEDAAN INDIVIDUAL MURID-MURID SD

Apresiasi kebutuhan-kebutuhan anak secara umum merupakan dasar untuk mema- hami  murid, walaupun  tidak harus selalu demikian.  Studi yang  telah dilakukan  oleh psikolog (Vasta dkk., 1992),  menunjukkan  adanya pola  umum dan  lingkaran  perkem- bangan yang  sama pada setiap anak, namun  diikuti  oleh hasil yang  berbeda  karena faktor internal maupun eksternal, sering kita kenal dengan perbedaan individual.
Perbedaan  individual  dalam  hal  ini  adalah  perbedaan  kemampuan  anak  yang banyak di  jumpai  di sekolah dasar. Hal  tersebut diperjelas dengan hasil pengukuran psikologis (IQ). Sekalipun hasil pengukuran tersebut relatif sama pada beberapa orang murid,  maupun  hasil tersebut  menunjuk pada hasil  belajar yang berbeda-beda.  Hatch
Narzet, Perbedaan Individual dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar   33 dan Coster (1961) memberi contoh: area umum yang selalu berbeda pada tiap individu, karena itu mendapat perhatian guru maupun orang tua, yaitu:
  • Achievement  :  kinerja skolastik (scholastic performance);
  • Anatomy        :  tinggi, berat, dan warna kulit (height,weight  compelexion);
  • Emotions       : stabilitas, percaya diri, kebijaksanaan, dan ketekunan (stability,  self- reliance, noise, tact, persistance);
  • Interest           :  hobi, sahabat, dan aktivitas (hobbies, friends, activities);
  • Physiology     :  kemampuan  menyimak,  aktivitas  visual,  dan  ketahanan  (hearing, visual activities, endurance);
  • Psychology    :  kecepatan  reaksi,  kecepatan  asosiasi  dan   koordinasi  (speed  of reaction, speed of association and coordination);
  • Sosial  perspectives:  suku,  politik,  agama  dan  sikap  ekonomi  (racial,  political, religion and economic aptitudes).
Dengan memahami setiap murid sebagai individu yang unik, berbeda antara yang satu dengan  yang lain,  guru  dalam  mengajar dapat  mendekatinya dengan  keunikan- keunikannya, tidak dengan pola umum, sekalipun perkembangan atau kebutuhan mere- ka menunjukkan ragam dan pola yang sama.

PENDEKATAN PENGELOLAAN KELAS

Dalam pengelolaan kelas dikenal dengan dua macam pendekatan, yaitu pendekat- an klasikal dan individual. Masing-masing pendekatan mempunyai kelebihan dan keku- rangan.  Pendekatan klasikal dimaksudkan guru memperlakukan sejumlah  murid sama rata, sementara dalam pendekatan individual guru memperlakukan dan melayani murid sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.
Pendekatan klasikal yang diadaptasi dalam sistem pengelolaan kelas di Indonesia, khususnya di sekolah dasar kurang memberikan sumbangan yang kaya dalam pemben- tukan perilaku murid-murid sebagai pribadi yang  unik. Dalam artian kecepatan  murid dalam  menginternalisasi bahan  ajar atau  materi kuran begitu  dihiraukan  guru.  Guru lebih banyak mengambil sikap seragam (jalan tengah). Tindakan seperti ini, terutama di kelas-kelas SD sangat riskan. Sebagai contoh: masih lemahnya kemampuan baca-tulis- hitung  murid-murid  di  kelas-kelas  awal  disebabkan  gagalnya  guru  melayani  siswa sesuai  dengan  individualitas  kemampuan  belajarnya.  Pada  akhirnya  bermuara  pada tingginya angka tinggal kelas.

Jarolimek  dan Foster (1960) menekankan  bahwa baca-tulis-hitung  (basic skill- three R’s) merupakan kemampuan dasar yang tidak bisa ditawar-tawar dan harus sece- patnya dikuasai murid. Kegagalan menguasai kemampuan dasar ini akan cukup meng- ganggu program-program  kelas  berikutnya.  Menurut  mereka salah satu kunci keber- hasilan penguasaan kemampuan dasar tersebut bila guru mampu menyusun dan melak- sanakan program pembelajaran yang individualized.
Untuk menyusun program individual diperlukan tujuan, bahan, dan kegiatn peng- ajaran yang berlain-lainan. Setiap bahan dan kegiatan  itupun  memerlukan  peralatan, metode, dan media instrusional yang berbeda-beda pula. Guru harus mengontrol setiap program  siswa yang berbeda-beda  sehingga betapa banyaknya siswa  yang  harus  dila-
34   JURNAL PENDIDIKAN & PEMBELAJARAN, VOL. 9, NO. 1, APRIL 2002: 31-36                                                             yani apalagi dengan  kondisi nyata  di Indonesia, yakni ditandai oleh rasio  guru-murid yang cukup besar,  misalnya 1 : 40. Dengan rasio sebesar itu sulit  mendekati  murid secara  individual. Akan tetapi tuntutan  akan  peningkatan  mutu  pendidikan,  mau tidak mau  membutuhkan terobosan-terobosan  yang dapat  mempertajam kekurangan pende- katan klasikal.

PENDEKATAN KLASIKAL YANG INDIVIDUAL

Pembahasan di atas menunjukkan seolah-olah pendekatan pengelolaan kelas yang individual lebih unggul dari pada  pendekatan klasikal. Namun demikian penilis juga telah mencoba mengungkapkan bahwa kondisi persekolahan menuntut adanya adaptasi sistem klasikal yang lebih komprehensif. Untuk itu pernyataan yang perlu dijawab ada- lah upaya apa yang perlu dilakukan agar pendekatan klasikal tetap dapat mengakomo- dasikan  perbedaan  individual, dalam arti individualitas yang  merupakan potensi yang layak untuk berkembang tetap tersalurkan dalam suasana klasikal yang ada. Untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara menyusun program perseorangan. Dalam hubungan  menyusun program perseorangan di  atas  menurut  Charles (1980), yang  memperkenalkan  istilah  COATS yaitu “baju’ untuk semua siswa atau  beberapa siswa yang dipilih berdasarkan  kemampuan dan kemandiriannya.  Yang  dimaksud  de- ngan “baju’ adalah satuan pelajaran untuk pembelajaran individual yang telah disesuai- kan  menurut kebutuhan, kemampuan, kecepatan  beberapa siswa  masing-masing atau beberapa orang siswa yang dipilih berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:
  • C (content), materi/isi pembelajaran yang akan dipelajari siswa secara individual.
  • O (objective), tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh sis- wa setelah pembelajaran   berlangsung.
  • A (activities), merupakan prosedur kerja dan  alat-alat bantu yang akan  digunakan oleh siswa dalam pembelajaran tersebut.
  • T (time), waktu yang dipergunakan oleh siswa dalam menyelesaikan tugas atau ke- giatan pembelajaran.
  • S (supervision), cara guru  melakukan  kontrol atau  bimbingan  individual terhadap para siswanya.
Dalam pelaksanaan pembelajarannya, mula-mula siswa memperoleh satuan pela- jaran masing-masing secara individual. Kemudian guru memberikan penjelasan tentang maksud  pembelajaran  individual  yang  akan  dilaksanakan  dan  kegunaannya.  Sela- njutnya para siswa dipersilahkan belajar secara bebas menurut cara dan gaya belajarnya masing-masing.  Guru  mengontrol  siswa  yang  belajar,  membantu  atau  membimbing mereka seperlunya. Setelah pembelajaran individual berjalan kira-kira sepuluh atau dua puluh  menit, lalu bentuk pembelajaran individual diubah  ke bentuk pembelajaran  kla- sikal biasa lagi. Begitu berulang-ulang dilakukan percobaan-percobaan dalam menganti- sipasi perbedaan individual yang dimaksud dalam tulisan ini.

Sumber Source : Klik In

Rujukan :
Biehler, R.F. & Snowman, J. 1982. Psychology Applied to Teaching. Boston: Houfton
Mifflin Company.
Charles, C.M. 1980. Individualizing Instruction. S. Louis: The C.V. Mosby Company. Hatch, R.N. & Costar, J.W. 1961. Guidance Service in the Elementary Sschool. Iowa:
WMC Brown Company Publisher.
Jarolimek, J. &  Foster,  C.D.  1976.  Teaching  and  Learning in  the Elementary School. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
Slavin,  R.E.  1994.  Educational  Psychology:  Theory  and  Practice  (fourth  edition). Boston: Allyn and Bacon.
Vasta,  H.  & Miller, J. 1992.  Child Psychology the Modern Science.  New York: John
Wiley & Son, Inc.

KETRAMPILAN BERBAHASA DI SEKOLAH DASAR

AYO SEKOLAH !!!

1)    Keterampilan Menyimak di SD

Menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif lisan. Menyimak dapat diartikan sebagai aktivitas penggunaan alat pendengaran secara sengaja yang bertujuan untuk memperoleh pesan atau makna dari apa yang disimak. Keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat krusial dalam menunjang keberhasilan belajar siswa.

Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan menyimak adalah memahami wacana lisan  berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun dan cerita rakyat. Standar kompetensi lulusan tersebut dicapai melalui serangkaian kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak berdasarkan standar kompetensi mulai kelas I sampai dengan kelas VI. Untuk mencapai standar kompetensi minimal sebagaimana yang telah ditentukan dalam kurikulum, diperlukan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran sehingga pembelajaran keterampilan menyimak dapat dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).

Pernahkah Saudara merancang secara khusus RPP untuk mengefektifkan dan meningkatkan keterampilan menyimak siswa? Jika pernah, berapa persentase RPP yang Saudara rancang untuk pembelajaran menyimak tersebut dibandingkan dengan tuntutan yang terdapat di dalam kurikulum? Coba diskusikan dengan peserta yang lain dalam kelompok Saudara.

Dalam pembelajaran menyimak, hal-hal yang penting diperhatikan guru antara lain:
a)    Upayakan kegiatan berbahasa yang dilakukan bersifat alamiah dan kontekstual.

b)    Pastikan pembelajaran menyimak dilakukan dalam bentuk aktivitas berbahasa reseptif lisan oleh siswa. Pembelajaran menyimak di SD ditujukan untuk melatih konsentrasi dan daya simak siswa, serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan menyimak siswa. Untuk itu, evaluasi menyimak upayakan dirancang oleh guru untuk mengetahui peningkatan konsentrasi dan efektivitas menyimaknya.

c)    Pastikan bahwa sebelum melakukan kegiatan penyimakan, siswa dalam keadaan siap fisik dan mental untuk melakukan penyimakan.

d)    Pastikan bahwa bunyi yang disimak siswa tidak banyak mendapat gangguan, baik yang bersifat kebahasaaan maupun nonkebahasaan. Upayakan semaksimal mungkin meminimalkan gangguan yang menyebabkan kurang efektifnya proses penyimakan yang dilakukan siswa.

e)    Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman komprehensif, pembelajaran menyimak disarankan dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran aspek keterampilan berbahasa yang lain, intra maupun antarmata pelajaran.

2)    Keterampilan Berbicara di SD

Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk produktif lisan. Keterampilan berbicara merupakan modal dasar yang sangat penting bagi seorang pebelajar untuk melakukan kegiatan komunikasi lisan secara santun dan efektif. Kurang terampilnya seseorang dalam berbicara dapat menyebabkan kurang maksimalnya hubungan sosial yang dilakukannya. Pembawaan diri seseorang yang salah satunya tampak dari keterampilannya berbicara akan mempengaruhi hubungan komunikasi yang dilakukannya.

Pembelajaran keterampilan berbicara di SD bertujuan agar siswa dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi sesuai dengan konteks peristiwa tutur secara efektif dan santun. Pembelajaran keterampilan berbicara dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi yang bersifat produktif lisan secara efektif, baik yang dilakukan di luar kelas maupun di dalam kelas. Di luar kelas, siswa yang terampil berbicara tentunya akan lebih mudah berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan santun. Adapun di dalam kelas, keterampilan berbicara sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar siswa dalam mata pelajaran lain yang menuntut siswa untuk terampil melakukan diskusi, melaporkan, menceritakan kembali, menjelaskan, mendeskripsikan, dan menjawab pertanyaan guru, dan berbagai bentuk kegiatan berbicara lainnya. Tentu saja, keterampilan berbicara tidak hanya terkait dengan aspek berbahasa produktif lisan saja, namun siswa juga dituntut memiliki pengetahuan, pengalaman, dan wawasan yang luas yang mendukung kualitas pembicaraan yang dilakukannya.

Namun, seperti halnya pembelajaran keterampilan menyimak, pembelajaran keterampilan berbicara tampaknya belum mendapat tempat  untuk dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi secara layak oleh guru. Coba Saudara ingat kembali, berapa persentase yang Saudara lakukan dalam merancang pembelajaran untuk mengefektifkan dan meningkatkan keterampilan berbicara siswa? Pernahkah Saudara menyusun instrumen secara khusus untuk mengamati keterampilan berbicara siswa? Coba Saudara susun kembali rancangan instrumen untuk menilai keterampilan berbicara siswa dan bagaimana cara Anda menganalisis hasilnya, kemudian bandingkan dengan peserta yang lain dalam kelompok Saudara.

Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan berbicara adalah menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, wawancara, percakapan telepon, diskusi, pidato, deskripsi peristiwa dan benda di sekitar, memberi petunjuk, deklamasi, cerita, pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk dongeng,  pantun, drama, dan puisi. Standar kompetensi lulusan tersebut dicapai melalui serangkaian kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berdasarkan standar kompetensi mulai kelas I sampai dengan kelas VI.

Dalam pembelajaran berbicara, hal-hal yang penting diperhatikan guru antara lain:
a) Upayakan kegiatan berbahasa yang dilakukan bersifat alamiah dan kontekstual.

b)  Pastikan pembelajaran berbicara dilakukan dalam bentuk aktivitas berbicara atau mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan (kegiatan berbahasa produktif lisan) oleh siswa.

c) Kegiatan berbicara mensyaratkan siswa untuk berani mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan. Sebelum penugasan kegiatan berbicara, pastikan bahwa siswa yang bersangkutan telah memiliki keberanian untuk berbicara. Jika belum, guru dapat melatih keberanian berbicara dulu melalui berbagai metode dan strategi pembelajaran. Coba diskusikan dengan teman di samping Saudara tentang metode dan strategi pembelajaran yang dapat dilakukan guru untuk membiasakan siswa berani berbicara.

d) Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman komprehensif, pembelajaran berbicara disarankan dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran aspek keterampilan berbahasa yang lain, intra maupun antarmata pelajaran.

3)    Keterampilan Membaca di SD

Ketika siswa masuk SD, siswa memperoleh pengalaman baru dalam kegiatan berbahasa yang berbeda dari  sebelumnya. Jika sebelumnya siswa selalu melakukan kegiatan berbahasa lisan, maka mulai memasuki jenjang pendidikan SD siswa mulai menuju kegiatan berbahasa tulis, yakni membaca dan menulis. Membaca merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif tulis. Membaca merupakan jendela untuk membuka cakrawala pengetahuan dunia. Oleh karena itu, keterampilan membaca merupakan modal dasar yang sangat krusial untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Kurang terampilnya siswa dalam membaca dapat menyebabkan terhambatnya siswa untuk mempelajari mata pelajaran lain. Bisakah Saudara bayangkan kerugian yang akan diderita siswa yang sulit mengakses berbagai pengetahuan sebagai dampak kekurangterampilannya dalam membaca. Sebaliknya, bisakah Saudara bayangkan pesatnya perkembangan siswa dalam mempelajari pengetahuan dan kemampuan di bidang apapun sebagai dampak tingginya keterampilan membaca. Untuk itu, guru sering memfokuskan sebagian besar pembelajaran yang dirancang dan dilakukannya pada pembelajaran membaca.

Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan membaca adalah menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama.

Dalam pembelajaran membaca, hal-hal yang penting diperhatikan guru antara lain:

a) Upayakan pembelajaran membaca nyaring berakhir pada saat siswa memasuki kelas III semester 1. Jika membaca pemahaman  yang dilakukan secara membaca nyaring masih dilakukan ketika siswa sudah memasuki kelas III, maka akan dapat menghambat upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan membaca lanjut. Hambatan dalam keterampilan membaca lanjut dapat berdampak pada terhambatnya siswa dalam mempelajari materi mata pelajaran lain. Membaca nyaring di kelas III ke atas dilakukan jika ada tujuan tertentu, misalnya membacakan puisi, membaca teks/naskah drama, atau membaca nyaring untuk tujuan mengecek pelafalan dan intonasi siswa.

b)    Perhatikan perkembangan keterampilan membaca siswa sesuai dengan standar kompetensi minimal dalam kurikulum, agar perkembangannya dapat berlangsung secara maksimal.

c)    Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman komprehensif, pembelajaran membaca disarankan dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran aspek keterampilan berbahasa yang lain, intra maupun antarmata pelajaran.

4)    Keterampilan Menulis di SD

Selain membaca, ketika memasuki jenjang pendidikan SD siswa mulai menuju kegiatan berbahasa tulis dalam bentuk menulis. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk kegiatan produktif tulis. Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk tulis. Selain keterampilan berbahasa yang lain, keterampilan menulis juga memegang peranan penting bagi keberhasilan belajar siswa.

Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan menulis adalah melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

Dalam pembelajaran menulis, hal-hal yang penting diperhatikan guru antara lain:
a)    Menulis merupakan bentuk keterampilan berbahasa tulis yang tidak bisa dilakukan secara instan. Untuk terampil menulis diperlukan proses yang panjang yang menuntut siswa untuk selalu menulis dan menulis. Dalam hal ini, guru dapat menyeimbangkan penggunaan pendekatan proses dan hasil, yang dalam pembelajarannya siswa tidak dituntut untuk menulis sekali jadi, namun melalui tahapan panjang, mulai dari tahap pramenulis, menulis draf pertama, merevisi, mengedit tulisan, sampai dengan mempublikasikan (keseimbangan antara proses dan hasil menulis).

b)    Untuk meningkatkan minat siswa dalam menulis, berilah mereka kesempatan memilih topik atau materi tulisan yang mereka sukai. Mengekang minat siswa dapat menjadi hambatan utama dan dapat menyebabkan minat siswa pupus di tengah jalan. Namun, kebebasan sepenuhnya bagi siswa sering menyebabkan kebingungan siswa untuk menentukan topik tulisan, terutama terjadi di kelas-kelas awal.

c)     Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman komprehensif, pembelajaran membaca disarankan dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran aspek keterampilan berbahasa yang lain, intra maupun antarmata pelajaran.

Salah satu kegiatan menulis yang perlu diperhatikan oleh guru adalah menulis wacana. Menulis wacana yang dilaksanakan di sekolah didasarkan pada jenis-jenis wacana yang dikenal oleh siswa. Jenis-jenis wacana itu adalah: (1) deskripsi, (2) narasi, (3) persuasi, (4) argumentasi, dan (5) eksposisi.

Para guru diharapkan mengetahui ciri-ciri wacana di atas. Oleh karena itu pada bagian ini akan dipaparkan mengenai ciri-ciri kebahasaan untuk setiap jenis wacana yang akan diajarkan.
Pertama, ciri kebahasaan wacana deskripsi. Tujuan wacana ini adalah melukiskan atau menggambarkan objek atau suasana secara detail dan rinci. Wacana deskripsi biasanya dimulai dengan orientasi atau pengenalan objek atau suasana untuk memberikan latar belakang informasi. Selanjutnya badan deskripsi adalah penggambaran detail objek dan suasana sehingga pembaca seakan-akan melihat atau merasakan objek yang digambarkan. Deskripsi banyak didominasi kata ganti, kata sifat, dan kata yang menunjukkan perasaan, serta kata keterangan. Contoh: laporan suatu kejadian, peristiwa, laporan terhadap objek.

Kedua, ciri kebahasaan wacana narasi. Tujuan wacana ini adalah menceritakan suatu cerita yang menghibur, memberikan informasi atau inspirasi. Wacana narasi dimulai dengan orientasi yang memperkenalkan setting (tempat peristiwa dan tokoh-tokoh) untuk memberikan latar belakang cerita. Badan narasi adalah suatu rangkaian peristiwa yang diselingi dengan komplikasi (masalah) disertai dengan subplot dan ketegangan sebagai pengembangan plot utama.  Narasi biasanya ditulis dengan sudut penceritaan (aku, kami, mereka, dia). Contoh: novel, cerpen, naskah drama, dsb.

Ketiga, ciri kebahasaan persuasi. Tujuan wacana ini adalah meyakinkan pembaca untuk bertindak dengan cara tertentu sesuai dengan pandangan penulis. Wacana persuasi dimulai dengan pernyataan posisi yang menyatakan pandangan penulis yang di dalamnya terdapat argumentasiyang dinyatakan secara emosional dan persuasif yang benar-benar mampu meyakinkan pembaca. Contoh: iklan, tajuk/editorial, pamflet, dsb.

Keempat, ciri kebahasaan wacana argumentasi. Tujuan wacana ini adalah meyakinkan pembaca untuk menyetujui pandangan penulis disertai dengan bukti-bukti yang memperkuat pernyataan tentang suatu tulisan. Wacana argumentasi dimulai dengan pernyataan yang logis disertai dengan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut. Wacana ini biasanya diakhiri dengan pengulangan pernyataan untuk mempertegas pandangan penulis.  Contoh: esai, artikel surat kabar, dan surat pembaca.
Kelima, ciri kebahasaan wacana eksposisi. Tujuan wacana ini adalah memberi informasi kepada pembaca supaya mereka memahami pandangan penulis atau pembaca. Wacana eksposisi berusaha memaparkan data, bukti, dan informasi lain yang mendukung pandangan penulis. Contoh: berita, tajuk, artikel surat kabar, dsb.
Kegiatan dalam kelas untuk setiap tahapan proses menulis dapat dirinci berdasarkan tahapan yang telah ada dan dapat diterapkan dalam pembelajaran yang konkret. Keterlibatan siswa dalam melaksanakan pembelajaran merupakan syarat mutlak dalam pembelajaran ini, karena akan memberikan gambaran mengenai pembelajaran PAKEM.

Pertama, kegiatan pramenulis diawali dengan mengeksplorasi pengalaman individu. Selanjutnya siswa dapat membaca berita atau teks yang berhubungan dengan yang akan ditulis. Kegiatan berikutnya adalah menyimak cerita yang dibacakan oleh guru. Curah pendapat untuk mendapatkan gagasan yang lebih kaya juga dapat dilakukan dan dilanjutkan dengan diskusi dalam kelompok.
Kedua, menuliskan draf pertama dilakukan dengan cara menuliskan dan mengembangkan semua gagasan secara bebas. Kemudian yang dilakukan adalah menggunakan apa yang telah direncanakan pada tahap pramenulis untuk membantu penulisan draf  pertama.

Ketiga, merevisi tulisan dilakukan oleh pengarang setelah karangan selesai. Karangan itu selanjutnya dibaca dua tiga kali. Selanjutnya meminta kepada orang lain membacanya dan meminta komentar atau melihat reaksi dari pembaca tersebut. Memutuskan perubahan yang dilakukan terhadap draf karangan dan melakukan perbaikan.

Keempat, menyunting tulisan merupakan tahapan selanjutnya. Dalam menyunting tulisan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai teknik dan substansi tulisan. Teknik adalah hal-hal yang berhubungan dengan ejaan, sednagkan substansi berhubungan dengan isi tulisan tersebut. Membaca berulang-ulang hasil tulisan dan meyakini bahwa tulisan itu sudah tidak ada kesalahannya.
Kelima, memublikasikan tulisan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui presentasi di depan kelas dan disaksikan oleh kelompok lainnya.

Tahapan pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan model-model pembelajaran aktif yang relevan dan telah disusun dalam RPP secara terencana dan sistematis.

PANDUAN MEMBUAT VISI-MISI-TUJUAN SEKOLAH

Visi
Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk memandu perumusan misi sekolah.
  1. Dengan kata lain, visi adalah pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan dibawa.
  2. Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.

Misal:
Setiap orang, tanpa disadari dan tanpa dirumuskan secara jelas sebenarnya juga punya visi.
Seorang pemuda, mungkin mencita-citakan bagaimana keluarga yang diinginkan ketika besok sudah menginjak usia tua. Mungkin terbayangkan memiliki seorang istri yang sabar dan setia, anak-anak yang cerdas,  sholeh dan berbakti pada orang tua, pekerjaan yang bagus, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman dengan tetangga yang rukun dan seterusnya.
Analog dengan itu, mungkin kita mengimajinasikan sekolah yang bermutu bagus, diminati oleh masyarakat, memiliki jumlah guru yang cukup dengan kualitas yang baik, fasilitas sekolah yang baik, dan sebagainya. Itulah yang disebut visi seseorang dan visi sekolah.

Gambaran tersebut tentunya harus didasarkan pada landasan yuridis, yaitu undang-undang pendidikan dan sejumlah peraturan pemerintahnya, khususnya tujuan pendidikan nasional sesuai jenjang dan jenis sekolahnya dan juga sesuai dengan profil sekolah yang bersangkutan.
Dengan kata lain, visi sekolah harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional tetapi sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat yang dilayani. 
Tujuan pendidikan nasional sama tetapi profil sekolah khususnya potensi dan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah tidak selalu sama. 
Oleh karena itu dimungkinkan sekolah memiliki visi yang tidak sama dengan sekolah lain, asalkan tidak keluar dari koridor nasional yaitu tujuan pendidikan nasional.

Sebagai contoh, sebuah sekolah yang terletak di perkotaan, mayoritas siswanya berasal dari keluarga mampu dan hampir seluruh lulusannya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, merumuskan visinya sebagai berikut:


UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ

Sementara itu sekolah yang terletak di daerah pedesaan yang umumnya tidak lebih maju dari pada sekolah di perkotaan, merumuskan visinya sebagai berikut:

TERDIDIK BERDASARKAN IMTAQ

Visi yang pada umumnya dirumuskan dalam kalimat yang filosofis seperti contoh tersebut, seringkali memiliki aneka tafsir. Setiap orang menafsirkan secara berbeda-beda, sehingga dapat menimbulkan perselisihan dalam implementasinya.
Bahkan jika terjadi penggantian kepala sekolah, maka kepala sekolah yang baru tidak jarang memberi tafsir yang berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Oleh karena itu, sebaiknya diberikan indikator sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan oleh visi tersebut. Sebagai contoh,
visi yang dituliskan UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA, diberi indikator sebagai berikut: 
  1. Unggul dalam perolehan NUAN/NUNAS,
  2. Unggul dalam pencapaian ketuntasan kompetensi,
  3. Unggul dalam persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya,
  4. Unggul dalam lomba siswa berprestasi,
  5. Unggul dalam lomba mata pelajaran,
  6. Unggul dalam lomba kreativitas,
  7. Unggul dalam lomba kesenian,
  8. Unggul dalam lomba olahraga,
  9. Unggul dalam disiplin,
  10. Unggul dalam aktivitas keagamaan, dan
  11. Unggul dalam kepedulian sosial.
Misi
  1. adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi tersebut.
  2. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah, maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi kepentingan masing-masing kelompok yang terkait dengan sekolah. Dalam merumuskan misi, harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah.
  3. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya.
Misalnya, sebuah sekolah yang memiliki visi UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ  merumuskan misinya sebagai berikut:
1)    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.
2)    Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
3)    Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
4)    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam betindak.
5)    Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakeholders).

Tujuan
Bertolak dari visi dan misi, selanjutnya sekolah merumuskan tujuan. Tujuan merupakan “apa” yang akan dicapai/dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan “kapan” tujuan akan dicapai. Jika visi dan misi terkait dengan jangka waktu yang panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu 3-5 tahun.  Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan tahapan wujud sekolah menuju visi yang telah dicanangkan.


Jika visi merupakan gambaran sekolah di masa depan secara utuh (ideal), maka tujuan yang ingin di capai dalam jangka waktu 3 tahun mungkin belum se ideal visi atau belum selengkap visi.  Dengan kata lain, tujuan merupakan tahapan untuk mencapai visi.  Sebagai contoh, sebuah sekolah telah menetapkan visi dengan indikator sebanyak 9 aspek, tetapi tujuannya sampai tahun 2004 baru mencakup 5 aspek sebagai berikut:
1)    Pada tahun 2004, gain score achievement (GSA)  siswa meningkat  + 0,1
2)    Pada tahun 2004, proporsi lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul minimal 40%
3)    Pada tahun 2004, memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi finalis LKIR tingkat nasional.
4)    Pada tahun 2004, memiliki tim olahraga minimal 3 cabang dan mampu menjadi finalis tingkap propinsi.
5)    Pada tahun 2004, memiliki tim kesenian yang mampu tampil pada acara setingkat kabupaten/kota.

a.    Sasaran/Tujuan Situasional
Setelah tujuan sekolah (tujuan jangka menengah) dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan sasaran/target/tujuan situasional/tujuan jangka pendek. Sasaran adalah penjabaran tujuan, yaitu sesuatu yang akan dihasilkan/dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu lebih singkat dibandingkan tujuan sekolah. Rumusan sasaran harus selalu mengandung peningkatan, baik peningkatan kualitas, efektivitas, produktivitas, maupun efisiensi (bisa salah satu atau kombinasi). Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif, maka sasaran harus dibuat spesifik, terukur, jelas kriterianya, dan disertai indikator-indikator yang rinci. Meskipun sasaran bersumber dari tujuan, namun dalam penentuan sasaran yang mana dan berapa besar kecilnya sasaran, tetap harus didasarkan atas tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah.

Rabu, 10 Agustus 2011

APA YANG DIPELAJARI ANAK DI SEKOLAH....??


ANALOGI PENDIDIKAN :

Cica mencuci cangkir dan piring
“Cuci tanganmu sebelum makan,Cica!” kata Ibu
“Ya, Bu,” jawab Cica.
“Coba cari adikmu!” Cica mencari adiknya. Adik Cica sedang membaca.
“Badanmu kotor, Yun. Bersihkan dulu badanmu!”
“Ya, Kak,” kata Yuyun.
Mereka biasa hidup bersih. Bersih itu sehat.

Teks dialog tanpa judul tersebut terdapat dalam buku Aku Cinta Bahasa Indonesia terbitan Tiga Serangkai Solo (2002). Buku ini dimiliki oleh hampir setiap siswa kelas satu di beberapa sekolah dasar di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang menjadikan buku ini sebagai buku utama dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Teks di atas memang dibuat untuk siswa kelas satu SD yang sedang belajar membaca permulaan, yang biasanya terfokus pada latihan melisankan bacaan mulai dari melafalkan huruf, suku kata, kata dan kalimat secara benar, jelas dan lancar. Tetapi apakah dengan demikian teks boleh dibuat sembarangan tanpa mempertimbangkan logika berbahasa? Perhatikan saja urutan deskripsi peristiwanya. Bagi umumnya anak-anak, logika peristiwa yang lebih mudah dipahami tentunya mencuci cangkir dan piring dilakukan setelah makan, bukan sebelum makan seperti pada bacaan di atas. Juga lebih mudah dipahami jika badan adik kotor ketika sedang bermain pasir atau tanah, bukan ketika sedang membaca . Sementara itu dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas lima SD, Bina Bahasa Indonesia terbitan Erlangga Bandung (2003) terdapat teks bacaan seperti berikut:

 
Wajib Belajar 
Desa kelahiran orang tua Indri tergolong tandus. Penduduk hanya panen setahun sekali. Itu pun kalau ada air hujan. Hasil pertanian penduduk umumnya singkong dan ubi jalar. Keadaan seperti itu bukan menandakan penduduknya miskin. Justru penduduknya tergolong makmur. Banyak hal yang dapat mereka kerjakan. Kaum ibu membentuk Home Industry atau Industri Rumah Tangga Jika kita masuk ke toko suvenir, hampir semua suvenir di sana adalah karya ibu-ibu. Begitu pula kalau kita berbelanja kue-kue tradisional. Semua itu hasil dari desa kelahiran ibunya Indri. Bagaimana dengan aktivitas bapak-bapak dan para remaja? Di sana tidak kita jumpai penduduk yang duduk di pojok gang atau di warung kopi. Konon sebagian besar remaja bekerja di kota lain. Mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk membeli sawah dan menyekolahkan adik-adik mereka. Jika ada anak usia sekolah berkeliaran pada waktu tersebut, setiap orang wajib menegur. Jika ternyata orang tua atau kakaknya yang menyuruh, pasti mendapat sanksi.

Teks bacaan ini berada dalam salah satu bab berjudul Membaca Pemahaman, yakni bab yang khusus dibuat untuk melatih siswa memahami bacaan. Setelah teks, diajukanlah pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan isi teks seperti: apa mata pencaharian ibu-ibu, apa yang dilakukan para remaja, mengapa penduduk desa makmur, bagaimana kesimpulanmu mengenai hasil perjuangan penduduk. Setelah itu pembahasan untuk memahami teks pun selesai. Kalaupun siswa dapat menjawab semua pertanyaan tersebut secara benar sesuai dengan isi bacaan, yakinkah kita bahwa mereka telah belajar memahami bacaan secara benar pula? Kita pasti tidak yakin akan keberhasilan pembelajarannya jika teks yang mereka baca adalah teks seperti tersebut di atas.

Dengan mempertimbangkan logika bahasa yang baik atas sebuah teks, perlu dipertanyakan dimana kita bisa temukan gagasan pokok yang dimaksud oleh judul yakni wajib belajar, sementara sebagian besar teks membahas industri rumah tangga ? Lalu jika kita perhatikan kalimat pada alinea terakhir, “mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk membeli sawah…?” , tentulah timbul pertanyaan, sawah mana yang dibeli? Sebuah kalimat yang kontradiktif dengan deskripsi pada alinea pertama. Dimana ada sawah jika kondisi desa dilukiskan sangat tandus dan hanya bisa menghasilkan singkong dan ubi jika ada hujan ?

 
Teks-teks bacaan yang buruk dalam pengaturan logika berbahasa seperti ini cukup banyak terdapat dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak-anak SD. Kekacauan logika terlihat mulai dari teks yang tidak memiliki judul, judul yang kurang menggambarkan isi teks, alinea yang tidak jelas gagasan utamanya, kalimat-kalimat dalam alinea yang tidak padu, dan sebagainya. Teks dialog penuh dengan tanya-jawab basa-basi tak bermakna. “Selamat pagi Firman”. “Selamat pagi Indri”. “Kamu sudah baca pengumuman belum?” “Pengumuman apa? Dimana? Aku belum membacanya tuh.” Dan seterusnya. Teks bacaan dan dialog dengan kualitas seperti ini umumnya teks yang dibuat sendiri oleh penulis buku yang biasanya adalah para guru atau sarjana ilmu pendidikan.

Kondisi yang memprihatinkan dari teks-teks bacaan buku pelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terjadi pada logika berbahasa, tetapi juga pada pilihan tema. Tema kebersihan dan kesehatan mulai dari mandi, sikat gigi, menyapu, mengepel, membuang sampah, menanami halaman rumah, kerja bakti di kampung, pemberantasan nyamuk, makan sayur, muncul berkali-kali dalam banyak bacaan terutama untuk siswa kelas satu sampai kelas tiga.

Tema yang tidak menarik, tidak menumbuhkan minat seperti ini menjadi semakin membosankan karena dibahas berulang-ulang. Sementara teks buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas empat hingga kelas enam, sarat dengan tema program pemerintah dan konsep-konsep yang terlalu kompleks untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah dasar seperti urbanisasi dan gerakan kembali ke desa, transmigrasi, ekonomi koperasi, perlindungan tenaga kerja, krisis moneter, cara-cara memberantas hama, dan sebagainya. Teks bacaan dengan tema seperti itu disajikan dengan bahasa penyuluhan sehingga tidak menimbulkan kesan yang bermakna bagi siswa. Apalagi kondisi di lapangan memperlihatkan kecenderungan guru-guru juga terbatas wawasannya mengenai program-program pemerintah tersebut.

Salah satu contoh teks berisi tema program pemerintah adalah teks dialog bejudul Posko Korban Banjir dalam buku pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SD kelas tiga. (Tim Bina Karya Guru, Bina Bahasa Indonesia 3A, Penerbit Erlangga, 2000, hal 134-135). Dengan maksud menanamkan kesan dan makna kepada siswa, teks dialog ini harus diperagakan sebagai permainan peran. Latar belakang dialog adalah rapat di Balai desa, tokoh yang diperankan adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan dokter Puskesmas. Teks berisi tanya jawab antara ketiga tokoh seputar kondisi pengungsi, kesiapan Puskesmas, dan kesiapan dapur umum. Bisa kita bayangkan bagaimana canggungnya anak-anak usia 10 tahun kelas tiga SD memainkan peran aparat pemerintahan desa. Terbayang pula bagaimana repotnya guru-guru memandu siswa masuk ke suasana rapat desa yang menjadi konteks dialog itu. Setelah teks, siswa diminta menyebutkan nama tokoh, sifat-sifat mereka dan alasan mengapa menyebutkan sifat itu. Bagaimana mungkin siswa dapat menggambarkan sifat tokoh dari dialog singkat tidak lebih dari 25 kalimat, dari sebuah peristiwa rapat di Balai Desa yang berlangsung datar-datar saja tanpa dinamika, dan tanpa pelukisan karakter tokoh-tokohnya? Kesan dan makna apa yang bisa diharapkan muncul dari anak-anak kelas tiga SD dari bacaan dan dialog dengan tema yang sama sekali tidak mengundang minat semacam ini? Contoh-contoh di atas memperlihatkan kepada kita bahwa materi pembelajaran bahasa di kalangan siswa sekolah dasar sulit diharapkan dapat berperan dalam meletakkan bahasa sebagai sarana berolah pikir dan sarana ekspresi.

 
Anak-anak mulai mempelajari konsep-konsep ilmu sosial pada saat duduk di kelas 3 SD. Diawali dengan mengenal lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sekolah, lingkungan tetangga sekitar dan seterusnya. Apa yang digambarkan oleh buku-buku pelajaran IPS kelas 3 SD tentang lingkungan tetangga ? Keadaan wilayah RT yang satu mungkin berbeda dengan keadaan wilayah RT yang lain. Ada wilayah RT yang terletak di tanah datar, ada yang di tanah berbukit. Wilayah RT di daerah perkotaan umumnya terletak di atas tanah datar. Wilayah RT yang terdapat di daerah pedesaan sebagian terletak di atas tanah berbukit. Wilayah RT 06/ RW 03 terletak di daerah perkotaan. Wilayahnya terdiri atas tanah datar dan rata. Di sana tidak ada bukit. Juga tidak ada sungai yang mengalir. (IPS Terpadu Kelas 3 SD, Tim Bina Karya Guru Penerbit Erlangga, 2000).

Dua alinea di atas membuka pembahasan mengenai lingkungan RT, RW, Kelurahan, hingga provinsi. Tanpa ada penjelasan yang memadai mengenai lembaga RT, tiba-tiba lembaga administratif itu dihubungkan dengan kondisi geografis yang secara konsep berbeda konteksnya. Deskripsi menjadi lebih kacau dengan kalimat: tidak ada bukit dan tidak ada sungai di perkotaan. Dalam memperkenalkan konsep-konsep ekonomi, buku pelajaran memulainya dengan menyebutkan jenis-jenis mata pencaharian. Mata pencaharian penduduk desa bertani, beternak, berkebun. Penduduk daerah pantai bermatapencaharian sebagai sebagai nelayan. Penduduk kota sebagian besar bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai perusahaan swasta dan perusahaan daerah.

Berbagai jenis mata pencaharian disebutkan bagai sebuah daftar jenis pekerjaan. Konsep “bekerja” itu sendiri tidak banyak mendapat porsi dalam penjelasannya. “Bekerja” yang merupakan aktivitas ekonomi produksi, menyempit maknanya menjadi sekedar jenis pekerjaan. Tidak ada gambaran yang memadai mengenai proses. Peran Guru Deskripsi isi buku di atas hanya merupakan cuplikan kecil saja dari seluruh isi buku pelajaran yang dipakai anak-anak di sekolah dasar. Buku pelajaran adalah media pembelajaran yang paling umum dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia. Jika isi buku pelajaran kondisinya sangat buruk, kita tentu berharap guru dapat berperan menutup kelemahannya, misalnya dengan memberikan bahan bacaan lain yang lebih baik atau menyusun sendiri bahan bacaan yang diperlukan.Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Dari pengalaman penulis bergaul dengan para guru sekolah dasar dan mengamati keseharian mereka dalam mengajar siswa, ada kecenderungan yang memprihatinkan yakni ketergantungan guru yang sangat tinggi terhadap buku pelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas. Ketergantungan ini mematikan daya kritis guru terhadap kualitas isi buku pelajaran.

Ketergantungan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, sebagian besar guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai teks yang baik. Kedua, sebagian besar guru memiliki minat baca yang rendah sehingga sulit bagi mereka untuk berkreasi menyusun sendiri bahan pelajaran untuk siswa. Ketiga, akses mereka terhadap bahan bacaan sangat terbatas. Dana untuk buku tidak ada, perpustakaan sekolah tidak tersedia dan sekolah tidak punya referensi bacaan yang memadai selain koran. Kondisi menjadi lebih parah karena waktu di luar jam sekolah lebih banyak digunakan para guru untuk memberikan les privat dalam rangka menyiasati pendapatan yang rendah.

 
Kondisi kurang kritisnya guru terhadap kualitas teks antara lain juga tampak pada hasil penelitian staf pengajar FKIP Universitas Terbuka, Suparti dkk tentang persepsi guru terhadap penggunaan buku teks Bahasa Indonesia SD di Kabupaten Jombang. (Jurnal Pendidikan Vol.3 No 1, Maret 2002, Lemlit UT). Dalam hal persepsi terhadap isi buku, para guru lebih menyoroti kualitas gambar yang kurang menarik, daripada kualitas teks. Yang terjadi kemudian, lebih penting bagi guru adalah menyelesaikan pembahasan materi yang ada di dalam buku pelajaran tepat pada waktunya. Kalau bisa lebih cepat sehingga lebih banyak waktu bisa dicurahkan untuk mengajak siswa berlatih mengerjakan soal. Soal-soal pun diambil dari buku pelajaran itu lagi, atau buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit lain yang isinya nyaris sama. Wacana guru dan siswa akhirnya hanya berkembang sebatas apa yang ada di buku pelajaran. Bagi umumnya guru, buku dianggap sudah lengkap mewakili konten kurikulum dan organisasi materi sehingga mereka seringkali merasa kurang aman kalau tidak mengikutinya. (Arsyar, 1989). Dampak pada Anak-anak Kualitas isi buku yang rendah ditambah dengan kemampuan guru yang kurang memadai, sangat tidak mendukung perkembangan kemampuan literasi dan pemahaman siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas 2 Juli 2003).

Sangat menyedihkan mengingat kemampuan membaca dan menulis merupakan kompetensi paling dasar yang dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuan dan meraih kompetensi yang lain. Membaca buku yang tidak menarik dan sulit dicerna isinya, menjadi beban berat bagi anak-anak. Yang kemudian dilakukan akhirnya hanya menghafal saja isi buku. Kebiasaan menghafal menumpulkan daya nalar dan kreativitas dalam memecahkan masalah dan menghasilkan karya cipta. Penghafalan juga mematikan rasa ingin tahu, padahal keingintahuan adalah kunci dari eksplorasi dalam perkembangan ilmu. Banyak penelitian mengungkapkan, kesulitan paling besar yang dhadapi siswa dalam memecahkan soal matematika berbentuk cerita adalah dalam membuat model atau memetakan masalahnya dan membuat kalimat matematika. (Hilum, 1997). Ini menunjukkan bahwa kemampuan analisa anak-anak sangat rendah akibat tidak berkembangnya logika berpikir. Kebiasaan menghafal diperkuat oleh dorongan yang diberikan para guru. Karena wawasan yang terbatas mengenai bahan yang diajarkan, guru juga selalu mendorong anak-anak untuk menghafal saja apa yang ada di buku. “Jangan cuma dibaca teksnya. Latihan-latihan soal juga harus dikerjakan. Hafalkan jawabannya. Ibu kan sudah berkali-kali mengingatkan soal-soal itu nanti pasti keluar waktu ujian,” kata seorang guru PPKn (pendidikan kewarganegaraan) kepada siswa-siswa kelas enam.

Seorang anak bisa saja hafal nama tokoh pahlawan dan tahun kejadian, tetapi belum tentu paham apa yang membuat para pahlawan memberontak, melawan dan berjuang. Buku pelajaran sejarah hanya memuat nama tokoh,tahun kejadian, urut-urutan kejadian, tanpa memberi penjelasan logis latar belakang terjadinya peristiwa-peristiwa itu. Buku Pelajaran, Kurikulum dan Pendidikan Tradisional Sebagai salah satu media pembelajaran, buku pelajaran memang harus memenuhi validitas kurikuler yakni disusun sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Dapat dikatakan, buku pelajaran mencerminkan kurikulum.

Jika kondisi buku pelajaran sekolah anak-anak sangat memprihatinkan seperti terpapar di atas, bagaimana dengan kurikulum pendidikan kita ? Kurikulum di Indonesia baru mulai populer pada tahun 1950an, dan digunakan oleh mereka yang memperoleh pendidikan Barat. Definisi kurikulum beragam. Dalam arti sempit, kurikulum didefinisikan sebagai “a plan for learning”, sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak-anak di sekolah. Namun para ahli pendidikan saat ini mendefinisikan kurikulum secara lebih luas, yakni semua pengalaman dan pengaruh yang diperoleh anak di sekolah.

Konsep kurikulum adalah konsep pendidikan moderen, pendidikan formal sekolah. Konsep kurikulum tidak dikenal dalam pendidikan tradisional yang ada di masyarakat, baik sosialisasi maupun pendidikan agama atau pendidikan ketrampilan. Pendidikan tradisional tidak memerlukan kurikulum, tidak memerlukan perencanaan karena tujuannya adalah mewariskan nilai dan tradisi, Materi pendidikannya relatif tetap dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan formal sekolah memerlukan kurikulum karena tujuan pendidikannya bukan sekedar mewariskan pengetahuan dan ketrampilan secara turun temurun kepada anak-anak.

Tujuan pendidikan sekolah lebih luas dan kompleks karena dituntut selalu sesuai dengan perubahan. Kurikulum harus selalu diperbarui sejalan dengan perubahan itu. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan, kurikulum harus disusun secara strategis dan dirumuskan menjadi program-program tertentu. Karena harus selalu relevan dengan perubahan masyarakat, penyusunan kurikulum harus mempertimbangkan berbagai macam aspek seperti perkembangan anak, perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja dan sebagainya.

Kondisi materi buku pelajaran yang memprihatinkan seperti digambarkan di atas, menunjukkan betapa kurikulum pendidikan sekolah yang ada saat ini belum disusun dan direncanakan dengan baik. Hal ini terjadi kemungkinan disebabkan oleh pertama, kelemahan manajemen perencanaan di tingkat operasional, dalam hal ini Pusat Kurikulum. Kedua, visi dan tujuan pendidikan belum dirumuskan secara jelas sehingga menimbulkan kebingungan dalam menerjemahkannya ke dalam strategi dan program. Ketiga, masih kuatnya pengaruh sistem pendidikan tradisional yang cenderung tidak responsif terhadap perubahan membuat sistem pendidikan sekolah cenderung hanya mengadopsi aspek formalitasnya sementara esensi sistem yang bersifat dinamis belum terbentuk. 


Pustaka Arsyar, Mohammad (1989). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK Ditjen PT Departemen P&K.
Kompas (2003). Kemahiran Baca di Indonesia Menyedihkan. (2 Juli 2003)
Mulder, Niels (2001). Indonesian Images. Yogyakarta: Kanisius
Nasution, S (1986). Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars
Hilum, Rium (1997). Pengaruh Kemampuan Memecahkan Masalah-masalah cerita dalam aljabar terhadap prestasi siswa. Skripsi S1 FMIPA IKIP Yogyakarta.
Supriadi, Dedi (2001). Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adicita
Shaver, James P ed. (1991). Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. New York: National Council for the Social Studies.
Anis Suryani
Sumber: http://antropologi.fib.ugm.ac.id/artdetail.php?id=14

Selasa, 22 Februari 2011

LIMA KELEMAHAN GURU DALAM MENGAJAR

ARTIKEL PENDIDIKAN :

Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya. 

Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain : 

  1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaranRPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir. Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
  2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
  3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku "menyimpang" seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
  4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat. Pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
  5. Tidak melaksanakan evaluasi. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

Sumber : http://www.pusatartikel.com


Selasa, 08 Februari 2011

MENJADI MURID YANG SUKSES DALAM SEKOLAH

TIPS :

ditulis oleh Ardiani Prabawa dari berbagai sumber.

Sekolah dengan tahun ajaran baru sudah dimulai. Itu artinya kita harus mulai untuk rajin belajar lagi agar kita dapat melewati tahun ini dengan baik. Nah, agar kalian dapat menjadi seorang murid yang sukses melewati tahun ajaran ini, tips-tips dibawah ini mudah-mudahan dapat membantu:

1. Usahakan untuk masuk sekolah setiap hari.
Kadang kita merasa malas untuk bangun pagi, apalagi kalau di hari Senin. Aduh, rasanya masih mengantuk sekali. Akhirnya kita berpikir untuk mencari alasan agar tidak masuk sekolah. Untuk mengejar ketinggalan, kalian meminjam catatan dari temanmu. Eit, tunggu dulu, dengan meminjam catatan dari teman bukan berarti kalian dapat mengerti apa yang diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah lho. Pada saat temanmu menulis catatan tersebut, dia menuliskan apa yang dianggap perlu olehnya. Nah, bagaimana kalau ternyata ada hal penting lain yang tidak tercatat olehnya? Wah, bisa-bisa saat ditanyakan di ulangan, kita tidak dapat menjawabnya.

2. Mulailah masuk ke kelas dengan perasaan terbuka.
Kalian pasti bertanya-tanya, apa sih maksud dari kalimat diatas? Kita sering merasakan kita menyukai kelas yang satu sedangkan ada juga kelas yang tidak kita sukai. Entah itu karenanya gurunya galak, tidak dapat menerangkan dengan baik atau bahan yang diajarkan tidak menarik. Karena alasan itulah akhirnya kita sering ogah-ogahan untuk mengikuti kelas tersebut dengan baik. Wah, kalau kita merasa begini terus, bisa-bisa kita tidak dapat nilai bagus di buku rapor. Agar, nilai di rapor tetap memuaskan cobalah untuk tidak langsung men-cap kelas tersebut tidak menyenangkan. Dengarkan apa yang diajarkan oleh guru tersebut, lalu resapi pelajaran yang diajarkan hingga kalian mengerti. Kalau ada yang kurang jelas, cobalah untuk bertanya kepada guru tersebut. Ingat, bahwa semua guru menginginkan agar muridnya pintar dan beliau tidak akan lelah untuk mengajari hingga kalian mengerti. Dengan begitu, selain kamu mengerti pelajaran yang diajarkan, kalian juga menciptakan hubungan yang baik dengan guru kalian.

3. Selalu siap sebelum masuk kelas.
Untuk memastikan bahwa pelajaran yang diajarkan dimengerti oleh para muridnya, guru sering memberikan latihan untuk di rumah atau yang kita sebut dengan pekerjaan rumah (PR). Biasakan untuk menyelesaikan dan mengumpulkan PR tersebut di saat yang ditentukan. Apabila kalian kesulitan menyelesaikan tugas tersebut, kalian dapat meminta bantuan dari ayah, ibu, kakak, teman sekelas atau bahkan dari guru mata pelajaran tersebut. Begitu juga dengan tugas-tugas lain seperti prakarya atau kerajinan tangan. Cobalah untuk mengumpulkan tepat pada waktunya. Dengan demikian, nilai yang kalian dapatkan utuh dan tidak dipotong karena terlambat mengumpulkan.

4. Ikuti bimbingan belajar.
Kalian atau bahkan teman kalian pasti ada yang pernah ikut bimbingan belajar bukan? Bimbingan belajar dapat membantu kalian untuk lebih memperdalam pelajaran yang diajarkan di sekolah. Banyak bimbingan-bimbingan belajar yang dapat kalian ikuti. Pastikan sebelum mendaftar, bimbingan belajar yang kalian pilih merupakan bimbingan belajar yang baik. Coba tanyakan dengan teman kalian, bimbingan belajar apa yang diikutinya dan apakah itu membantunya untuk mengerti pelajaran di sekolah.

Nah, mulailah untuk rajin belajar dari sekarang dan selamat mencoba tips-tips diatas!

Sumber : Click Here

POLA ASUH DAN PERKEMBANGAN ANAK

Referensi :
Amy Chua mendadak terkenal ketika tulisannya yang berjudul Why Chinese Mothers Are Superior terbit di The Wall Street Journal pada 8 Januari 2011. Pro dan kontra bermunculan menanggapi tulisan tersebut.
Dalam artikel yang merupakan bagian dari buku berjudul Battle Hymn of the Tiger Mother, Amy menjelaskan bagaimana 'kesuksesannya' mendidik dua putrinya yaitu Sophia dan Louisa.

Pola pengasuhan yang diterapkan oleh Amy Chua bagi sebagian besar orang dianggap otoriter karena memaksa anak mengikuti apa yang diinginkannya misalnya dua putrinya itu tidak dibolehkan bermain, dilarang menonton tv atau bermain games di komputer, harus mendapatkan nilai A tidak boleh lebih rendah dan harus menempati posisi pertama untuk seluruh kegiatan sekolah kecuali senam dan drama.
Di dalam artikel itu dijelaskan juga perbedaan pola pengasuhan ibu-ibu di barat dan Asia khususnya China. Bagaimana, di negeri tirai bambu itu, orangtua dengan gampangnya mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak-anaknya.
"Saya pernah dipanggil sampah oleh ayahnya. Bagiku, itu bukan berarti saya tidak bernilai tetapi kebalikannya saya harus terpacu untuk melakukan yang lebih baik lagi, dan kini hal yang sama juga saya terapkan kepada anak-anak saya," ujarnya seperti dituliskannya dalam artikel tersebut.
Amy Chua yang juga profesor di Yale Law School menganggap pola didikan tiger mom berhasil melahirkan anak-anak yang tidak mudah menyerah. Sebaliknya pola asuh barat membuat anak-anak cengeng karena orangtua terlalu peduli dengan apa yang dirasakan oleh anak  mereka hingga tak berani memaksa untuk menjadi yang lebih baik.
Pola pengasuhan tiger parenting itu mungkin masih diterapkan oleh sebagian besar orangtua di negeri ini tanpa memperhatikan kondisi anak. Lantas pola pengasuhan seperti apa yang ideal itu?
Tiap pasang orangtua pasti memiliki cara jitu mendidik anak-anaknya seperti yang dilakukan oleh pasangan Erwin Parengkuan dan Jana Gunawan.
Pasangan artis Mathias Muchus dan Mira Lesmana meniru pola asuh warisan orangtuanya, Jack dan Nien Lesmana dalam mendidik anaknya, Galih Galinggis (20) dan Kafka Kiandra (12).
Bersama suami, Mathias Muchus, Mira menerapkan prinsip keterbukaan dan pertemanan. Dia mencoba menjadi teman bagi kedua putranya. "Kami membiasakan berdiskusi karena anak-anak punya hak untuk bersuara. Mereka diperbolehkan berdebat jika ada yang tidak disepakati. Kalau saya menang debat, mereka harus menurut. Jika saya yang kalah, mereka harus punya alasan kuat," jelas Mira.
Mira mengakui dirinya bukan tipe orang tua yang strict dan jarang sekali mengucapkan "tidak boleh" serta memilih berdebat dengan anak-anak. Ketika anak-anak semakin besar, Mira dan Muchus mengendorkan batasan-batasan yang berlaku.
Mira berpendapat setiap keluarga punya ukuran ideal yang berbeda-beda dalam mengasuh anak. Bagi Mira dan Muchus, pola asuh ideal adalah yang mereka terapkan sekarang, yaitu tidak pernah memaksakan apapun kepada anak-anak. Jangan sampai membuat anak tertekan karena keinginan orang tua, bukan keinginan mereka.
Jika pasangan Mira Lesmana dan Mathias Muchus cenderung mengikuti keinginan anak, Pongky Jikustik dan Sophie Navita sejak awal sepakat untuk menerapkan disiplin sejak dini dan memberikan pendidikan terbaik.
Pendidikan terbaik yang diberikan kepada anak tidak membuatnya menuntut si anak selalu menjadi juara kelas. Poin terpenting adalah ilmu yang diperoleh si anak terus berkembang dan seimbang.

Pola pengasuhan ideal
Pola pengasuhan orangtua sangat menentukan perkembangan anak. Hal tersebut diungkapkan oleh psikolog keluarga Anna Surti Ariani. Dia menjelaskan setiap orangtua pasti ingin memiliki ikatan emosional yang kuat dengan buah hatinya, oleh sebab itu orangtua selalu berusaha untuk mengembangkan gaya pengasuhan anak yang tentunya sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut.
Anna Surti Ariani yang akab disapa Nani ini menjelaskan ada empat macam pola asuh orangtua yang dapat diterapkan kepada anaknya, keempat macam pola tersebut dirujuk berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Diana Baumrind yaitu: otoriter, permisif, penelantar dan demokratis, yang masing-masing jenis pola asuh tersebut memiliki cara berbeda dalam mengasuh anaknya.
Untuk pola asuh keluarga secara otoriter cenderung memiliki banyak peraturan dan umumnya orangtua sangat membatasi anak-anak mereka dalam segala hal.
"Jadi orang tua banyak aturan yang bersifat memaksa serta larangan-larangan yang cenderung negatif atau bahkan yang bersifat positif pun dibatasi, pokoknya sesuai apa keinginan si orang tua" tuturnya.
Dalam pola asuh seperti ini, komunikasi yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah, yaitu dari orang tua pada anak, sedangkan si anak tidak diperkenankan bicara atau mengeluarkan pendapat.
Pola asuh ini sangat tidak efektif dan cenderung berdampak negatif untuk tumbuh kembang anak. Akibat dari pola asuh seperti ini adalah anak menjadi tidak bebas, mudah stres, pemurung dan tidak bersahabat.
Pola itu akan lebih berisiko ketika anak memiliki karakter yang pembangkang maka bukan tidak mungkin  ia akan menjadi pemberontak dan puncaknya si anak akan memiliki kepribadian yang negatif.
Lanjutnya, untuk tipe pola asuh keluarga permisif atau yang lebih dikenal dengan tipe liberal ini justru berbanding terbalik dengan pola asuh otoritarian, hal tersebut karena tipe anak-anak diberi kebebasan untuk melakukan apa saja dan orangtua hampir tidak melakukan pengawasan terhadap mereka.
Pola asuh ini lebih menekankan pada keinginan dan kehendak si anak yang harus dituruti oleh orangtua. "Untuk tipe pengasuhan seperti ini jelas tidak terlalu baik untuk membentuk pribadi seorang anak, karena anak umumnya masih sangat labil dan butuh tuntunan orang tua. Bila terlalu dibebaskan, mereka akan tumbuh menjadi anak manja, tidak suka bekerja keras, dan tidak akan sukses di tengah-tengah masyarakat karena terlalu tergantung dengan orangtuanya" terangnya.
Demikian pula untuk pola asuh jenis penelantar, pola asuh jenis ini cenderung lebih membahayakan daripada tipe permisif. Nina menekankan untuk tipe penelantar tersebut cenderung dianut oleh para orangtua yang memiliki kesibukan ekstra.
Dampak dari pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, dan bermasalah dengan teman.
Nina menegaskan untuk pola pengasuhan yang ideal adalah tipe pengasuhan demokratis. Pola asuh keluarga secara demokratis agak lebih longgar dari otoriter, dan ini sangat bagus untuk membentuk pribadi seorang anak agar tumbuh menjadi orang yang baik.
Nina mengungkapkan jenis pola asuh ini sangat memperhatikan kepentingan atau kebutuhan si anak. "Mereka diberi kebebasan  tapi tidak bersifat mutlak, peran orang tua masih sangat tinggi sehingga anak-anak pun tidak akan kebablasan dalam bertindak" tuturnya.
Tidak seperti tipe otoriter, komunikasi yang terjadi adalah komunikasi dua arah. Hal ini menyebabkan tidak terjadinya kesalah pahaman antara orang tua dan anak. Anak mengerti apa keinginan orang tua, orang tua pun mengerti tentang sejauh mana kebutuhan dan kemampuan anaknya.
Untuk pola asuh demokratis tersebut akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Tulisan Asli by Rahayuningsih
Sumber : Click Here

Admin Blog :

Creator, Browser and Modelling :

1. SOELISTIJONO, S.Pd (Tata Usaha)

PENASEHAT :

1. Dra. SRI NINGSIH (Kepala Sekolah)
2. ATIK SUMIYATI, S.Pd (Bendahara)


ANGGOTA :

1. UMI ICHWATI, S.Pd.i (Guru Agama)
2. JUARSIH, S.Pd (Guru Kelas I)
3. SUYONO, S.Pd (Guru Kelas IV)
4. DJOKO SUSILO, S.pd (Guru Penjas Orkes)
5. SUNAJI, S.Pd (Guru Kelas V)
6. KRISMI INDARTI, S.Pd (Guru Kelas VI)
7. BETIN ISMIATI, S.Pd (Guru Kelas III)
8. SHOLAHUDDIN, S.S (Guru Bhs. Inggris)
9. ERWIN YANITA, S.Pd (Pembina Komputer)
10. INDAH MURNI. I, S.Si (Pengelola Perpustakaan)
11. Drs. SRIYANTO (Pembina Seni Tari)
12. DJOKO PRIJADI (Pembina Seni Musik)
13. ESTER NONI (Guru Agama Kristen)

General View :


Additional informatio

Link Referensi :

Pengikut